Lynx masih berdiri tenang, jaring energinya tersebar halus di udara, menjelajah setiap celah dan sudut di sekitar medan pertempuran. Tiba-tiba, dia merasakan gerakan dari seseorang di sebuah lokasi dimana sebelumnya tidak ada jejak manusia, datang dari salah satu tangga di gedung tinggi tak jauh dari situ. Mata langitnya menyipit, menembus jarak dan kabut malam, menangkap bayangan samar berbentuk manusia yang nyaris tak terlihat sedang melompat turun dengan cepat.

"Akhirnya... Aku berhasil menemukanmu, Kanaya," gumamnya lirih.

Dengan satu gerakan ringan dari tangannya, udara di sekitarnya meletup, lalu angin tajam melesat seperti cambuk tak terlihat. Dalam sekejap, hembusan itu menghantam tubuh transparan Kanaya dari kejauhan dan melemparkannya keras ke dinding beton.

Brakk!

Tubuh Kanaya terhantam tembok dengan keras dan terjatuh di salah satu tangga. Kekuatan menghilang yang digunakannya buyar seketika. Sosoknya kini tampak jelas, terlihat menggeliat menahan nyeri, dan dengan tubuh terluka, dia berusaha bangkit untuk melarikan diri.

Namun sebelum ia sempat bangkit, Leena telah muncul di sampingnya dengan gerakan yang sangat cepat, nyaris seperti bayangan. Tangan Leena terulur, menangkap tubuh Kanaya dengan cekatan, lalu membawanya turun dan menekannya ke tanah dengan ekspresi wajah dingin.

"Diam di situ," bisik Leena di telinganya, tatapan matanya tajam menusuk.

Sandrage yang sejak tadi mengamati dari kejauhan, menyadari peluang di hadapannya. "Wanita itu. Aku baru menyadarinya. Aku bisa memanfaatkan wanita itu untuk memaksa pemuda ini menyerah. Kemampuan wanita itu tidak sekuat pasangannya."

Wujud Sandrage bergetar lalu berubah kembali menjadi badai pasir, berputar terbang cepat dan meluncur ke arah Leena. Niatnya jelas, menyandera Leena untuk membuat Lynx menyerah.

Tapi Lynx yang waspada, sudah bergerak lebih cepat.

Dia menekuk jarinya, dan tanah di sekitar mereka bergetar. Lynx menggunakan kekuatan elemen untuk mengendalikan tanah yang ada disekitarnya. Serpihan tanah melesat, membungkus Sandrage dalam pusaran yang tak terhindarkan. Pasir-pasir Sandrage terhalang lapisan tanah yang mendadak muncul di hadapannya, sehingga dia terjepit dan terperangkap. Tanah-tanah yang terbang dengan lapisan qi spiritual membentuk kurungan kokoh berbentuk bulat yang memerangkap Sandrage sepenuhnya.

“Kau hanya jadi gangguan.” ucap Lynx datar. “Pergilah.”

Para pasukan, Ratih, Kilat dan Ockron melihat Lynx mengangkat kaki, lalu menendang bola kurungan itu dengan terlihat sangat santai, namun suara dentuman keras terdengar saat bola tanah itu melesat ke angkasa, terbang seperti meteor, membawa Sandrage jauh dari area pertempuran tanpa sempat mengeluarkan satu teriakan pun.

Para pasukan terdiam, menatap ke arah Lynx dengan mata terbelalak. Ratih dan rekan-rekannya terkejut melihat kekuatan yang begitu menghancurkan. Kilat, yang masih meringis kesakitan karena tangannya remuk, merasakan ketakutan yang dalam. Ia memegangi tangannya yang patah, pikirannya mulai berputar. "Aku harus kembali ke markas... dan mengambil senjata yang lebih kuat untuk menghadapinya," bisiknya. Sebagai orang yang sering menghadapi berbagai pertarungan, dia masih bisa berpikir jernih dan cepat.

Namun, sebelum Kilat bisa bergerak lebih jauh, Ockron mencoba melakukan serangan mendadak ke arah Lynx dengan tentakelnya. Dia masih belum menyerah dan ingin menggunakan sisa tentakel yang masih tersisa. Tiba-tiba dia merasa tubuhnya tertarik dengan kekuatan yang tak terduga. Tanpa ampun, Lynx dengan gerakan yang begitu cepat, menarik tentakel tersebut sehingga Ockron tertarik ke arah Lynx, lalu dengan cepat, Lynx melilitkan tubuh Ockron dengan tentakelnya sendiri, lalu Lynx menariknya dengan keras ke arah Kilat yang sedang berniat kembali ke markas.

"Kalian, berhenti berusaha! Aku tidak ingin menyakiti kalian." kata Lynx dengan nada datar, namun penuh ancaman. Dalam sekejap mata, Ockron dan Kilat terikat erat satu sama lain, tubuh mereka seperti bermain tali-temali, tak bisa bergerak sedikit pun.

Dari matanya, Lynx mengeluarkan sinar laser tak kasatmata ke arah tentakel untuk membuat tentakel tersebut menyatu dan sulit dilepaskan.

Ockron dan Kilat terkejut, terbelit dalam ikatan yang begitu rapat, tidak ada ruang untuk melarikan diri. Ockron berusaha meronta, namun sia-sia, ikatan itu hanya semakin mengencang.

Para pasukan yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa melotot, mulut mereka terbuka lebar karena tak pernah menyaksikan hal seperti itu sebelumnya. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, ketakutan mulai merasuki diri mereka.

Leena, yang melihat ekspresi terkejut para pasukan, tidak bisa menahan tawanya. "Aku tidak akan heran melihat kalian terkejut melihat kemampuan Lynx, justru aku akan heran jika kalian bersikap biasa setelah melihat kemanpuannya," katanya dengan senyum lebar, suaranya penuh dengan ejekan.

Sebagai pasukan yang sudah terbiasa bertempur dan mendapatkan pelatihan khusus, tidak lama semua pasukan segera tersadar dan berniat menembak Lynx. Meskipun mereka merasa tidak yakin mampu melukainya, namun mereka merasa tidak punya pilihan lain.

Melihat gerakan pasukan tersebut, dengan gerakan yang cepat dan tak terdeteksi, sinar laser tak kasat mata meluncur dari mata Lynx. Semua senjata yang dipegang oleh pasukan langsung rusak dan menjadi panas sehingga para pasukan tersebut tanpa di sadari melepaskan senjata dari genggaman mereka.

Lynx melambaikan tangannya lagi, memunculkan angin kencang ke arah para pasukan. Dalam sekejap, pasukan yang terkejut hanya bisa terlempar ke belakang, menabrak dinding dengan keras dan terjatuh pingsan satu per satu, tidak mampu melawan kekuatan Lynx yang begitu luar biasa.

Lynx kemudian melangkah dengan tenang menuju Kanaya yang terlihat ketakutan, matanya yang tajam terus memantau setiap gerakannya. Kanaya mencoba untuk menenangkan dirinya, meskipun ketakutan begitu jelas terlukis di wajahnya. Namun, pengalamannya yang luas sebagai pembunuh bayaran dan berbagai pengalaman hidup mati, membuatnya dapat segera mengatasi rasa takut itu, dan dia mulai mencari cara untuk memanfaatkan situasi.

Beberapa saat ketika Lynx selesai mengikat Ockron dan Kilat, mata Kanaya menatap tajam ke arah Leena yang sedang menoleh padanya, dan dalam sepersekian detik, gelombang pengaruh mental menyelinap masuk, menelusup ke dalam kesadaran Leena seperti kabut tak berwarna.

Leena tidak menunjukkan tanda apa pun. Matanya tetap tenang, tubuhnya tidak bereaksi. Tapi Kanaya tahu, pengaruhnya telah masuk, perlahan merambat dan bersembunyi dalam kesadaran Leena.

“Aku akan memanfaatkannya nanti,” batin Kanaya, senyum samar muncul di sudut bibirnya.

Lynx lalu berdiri di hadapan Kanaya, suaranya terdengar tenang, namun penuh ancaman. "Kanaya, katakan di mana Lala?" suaranya datar, tidak menunjukkan emosi, hanya murni sebuah pertanyaan yang mengandung ancaman.

Kanaya menyeringai, meskipun wajahnya masih terkejut oleh kekuatan Lynx. Dengan suara yang dipenuhi kebencian, dia balas mengancam. "Lepaskan aku, jika tidak, aku akan membunuh Lala," teriaknya, suaranya bergema, penuh keyakinan. Dia tahu, mereka berdua melakukan perjalanan ke dimensi ini demi menyelamatkan Lala, sehingga tidak mungkin membiarkan Lala terbunuh begitu saja.

Lynx menyipitkan matanya, rasa marah mulai mengalir. "Kamu berani mengancamku?" katanya dengan nada rendah yang penuh dengan bahaya. "Aku akan menyiksamu dan membuatmu merasakan apa yang tidak pernah kamu rasakan sebelumnya."

Namun, Kanaya, dengan ketenangannya yang terlatih, segera menghidupkan alat komunikasinya. Dengan cepat, dia memanipulasi perangkat tersebut, dan layar di depan Lynx menampilkan sebuah video. Di dalamnya, Lala terlihat terikat di sebuah ruangan kaca, tubuhnya terkulai pingsan, tak berdaya.

Lynx menatap layar itu dengan mata yang membara. Sesaat, wajahnya terlihat lebih serius, namun rasa marah dan frustasi semakin terlihat di wajahnya. "Katakan dimana kalian menahannya? Aku tidak akan ragu-ragu untuk menyiksamu," katanya dengan suara yang lebih rendah, namun penuh tekanan, menandakan bahwa dia siap melakukan apapun untuk menyelamatkan Lala.

"Apa kamu pikir aku, Kanaya, takut denganmu? Sudah banyak penyiksaan aku alami. Kematian bukan apa-apa bagiku. Tapi aku tidak akan sendirian, wanita itu, Lala akan ikut menemaniku." Kata Kanaya dengan sengit.

Lynx merasakan gelombang kemarahan yang semakin membara di dalam dirinya. Tanpa berkata-kata, dia mulai menggerakkan jarinya dengan lembut, menyalurkan energi akupuntur ke titik-titik tertentu di tubuh Kanaya. Dalam sekejap, tubuh Kanaya seolah diserang oleh ribuan gigitan semut yang menyengat setiap kulitnya. Rasanya begitu menyiksa, seakan-akan setiap bagian tubuhnya terbakar oleh rasa sakit yang tak tertahankan.

Kanaya terjerit keras, tubuhnya bergetar hebat. Dia meronta-ronta, mencoba menggaruk kulitnya yang terasa seperti terbakar, namun semakin ia berusaha, semakin kuat rasa sakit itu. "Aaaaargh! Tidak...!" teriaknya, sesekali ia menggaruk tubuhnya dengan sekuat tenaga, mencoba menghentikan rasa sakit yang datang begitu mendalam. Namun, meskipun rasa sakit itu mendera, Kanaya tetap bersikeras tidak mau membuka mulutnya. Sebagai seorang pembunuh bayaran, dia tahu betul apa artinya menjaga rahasia. Bahkan jika itu berarti kematiannya, ia memilih mati daripada membocorkan rahasia.

Ratih, Ockron, dan Kilat menyaksikan dengan ketakutan. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Lynx memiliki sikap tegas dan ganas dalam hal menyiksa lawan dan cara yang digunakan begitu mengerikan. Leena yang sudah pernah melihat cara itu pun tetap merasa merinding. Garukan-garukan di tubuh Kanaya meninggalkan luka-luka yang mengerikan, membuatnya tampak seperti korban penyiksaan yang tak terbayangkan. Wajah Kanaya penuh dengan keringat dingin, matanya melotot, namun tekadnya tetap teguh.

Tapi, rasa sakit itu tak kunjung hilang.

